Selasa, 13 Oktober 2009

Go Organic 2010 atau 2010 Organic Go

Go Organic 2010 atau 2010 Organic Go?

Tahun 2000 merupakan tahun penting bagi perkembangan pertanian organik di Indonesia. Pertanian organik yang selama era pemerintahan orde baru “diharamkan”, diterima sebagai agenda baru di sektor pembangunan pertanian. Pemerintah meluncurkan agenda pembangunan pertanian yang disebut “Go Organic 2010” dengan target utama menjadikan Indonesia sebagai salah satu produsen dan pengekspor pangan organik utama di dunia tahun 2010

Investasi yang tidak memadai

Go Organic 2010 lebih mengutamakan pengaturan pasar daripada mengembangkan kapasitas petani berproduksi. Karenanya fokus kebijakan dan program antara lain adalah penetapan Standar Nasional Indonesia untuk Sistem Pangan Organik, Pembentukan Otoritas Kompeten Pertanian Organik, Pedoman Akreditasi Lembaga Sertifikasi organik, Pedoman Lembaga Sertifikasi Pangan Organik, dan Pedoman Umum Pelabelan Produk Organik.

Baru pada bulan September 2009 ada kebijakan peningkatan kapasitas produksi bertani yang cukup memadai. Namun itu juga baru akan dialokasikan pada tahun 2010. Kebijakan tersebut adalah pengalihan anggaran subsidi pupuk kimia sebesar 35,4% atau Rp 6.2 Triliun menjadi subsidi pupuk organik. Kebijakan ini juga sangat berarti karena untuk pertama sekali pemerintah memberikan subsidi pupuk langsung kepada petani setelah sebelumnya sejak zaman orde baru subsidi pupuk selalu diberikan kepada perusahaan pupuk. Subsidi langsung tersebut diberikan dalam bentuk program dukungan pengelolaan pusat prouduksi pupuk organik di 10.000 desa.

Kebijakan ini sangat berarti untuk menjamin ketersedian pupuk organik bagi komunitas secara berkelanjutan dan berpotensi bertambah menurut derek ukur setiap tahunnya.

Namun untuk menjadikan Indonesia sebagai produsen dan pengekspor pangan organik penting di dunia pada tahun 2010 rasanya sangat mustahil. Eksport padi organik pada tahun ini baru mencapai sekitar 18 ton. Angka ini jauh lebih kecil dari eksport padi organik Kamboja, dimana pada tahun ini saja sudah mengekspor beras organik sebanyak 75 ton. Tentu saja dibandingkan Thailand dan India yang sudah terlebih dahulu masuk ke pasar ekspor, capaian Indonesia belum ada apa-apanya.

Risiko melayunya inisiatif petani kecil

Dasar pemikiran dibalik kebijakan mengatur pasar adalah melindungi konsumen dari produk pertanian organik yang manipulatif. Oleh sebab itu pemerintah mengeluarkan kebijakan tentang standard sistem pangan organik, sertifikasi dan pelabelan produk pertanian organik. Pertanyaannya adalah apakah standard, sistem sertifikasi dan pelabelan yang ada membuat konsumen terlidungi dan proses produksi tetap termotivasi?

Pengaturan yang tidak tepat terhadap pasar yang belum berkembang dikuatirkan justru akan membunuh perkembangan yang sudah ada. Perlu diketahui bahwa pertanian organik selama ini berkembang justru karena adanya penghormatan kepada keunikan lokal yang akan mati karena standarisasi. Pengaturan yang ada saat ini dikuatirkan pada satu sisi membuat sistem yang dikembangkan tidak dapat diakses petani, dan pada sisi lain tidak sesuai dengan kebutuhan konsumen.

Sistem yang sekarang dikembangkan pemerintah mensyaratkan penggunaan label (sertifikat organik) kepada seluruh produk pertanian yang diperdagangan sebagai produk pertanian organik. Sertifikat tersebut dikeluarkan oleh lembaga sertifikasi yang diakreditasi pemerintah. Produk hanya bisa mendapat sertifikat jika produk tersebut diproduksi menurut standard pangan organik yang dikeluarkan oleh pemerintah.

Ada tiga kesulitan utama yang dihadapi petani dan konsumen untuk memenuhi sistem tersebut:

- Petani mengalami kesulitan memenuhi standard yang ditetapkan. Bukan karena sulitnya memenuhi standard teknis berproduksi tetapi memenuhi standard administrasi yang disyaratkan. Misalnya ketika petani harus mencatat seluruh kegiatan yang dilakukannya, atau untuk mendapatkan kwitansi untuk pembelian benih, pestisida atau pupuk organik dari tetangganya.

- Petani tidak mampu membayar biaya sertifikasi. Sertifikat berlaku untuk satu unit produksi dan musim. Biaya sertifikasi antara 5-10 juta rupiah per sertifikasi. Rasanya dengan kisaran biaya sertifikasi sebesar itu tidak mungkin petani dengan lahan di bawah 5 hektar merasa terdorong untuk berorganik.

- Harga di tingkat konsumen akan menjadi lebih mahal karena adanya biaya sertifikasi.

Alih-alih mengembangkan pertanian organik. Strategi Go Organic 2010 yang berbasis regulasi pasar ini dikuatirkan justru akan membunuh inisiatif bertani dan mengkonsumsi produk organik yang sudah ada.

Go organic pangan Indonesia

Belajar dari tahapan perkembangan prioritas regulasi di negara-negara maju maka pemerintah seharusnya memulai pembangunan pertanian organik dengan kebijakan yang mendukung produksi misalnya dengan mendukung penyediaan sarana produksi, memberikan jaminan harga ketika melakukan transisi dari sistem konvensional ke bertani organik, dan juga menjamin harga dasar premium.

Dukungan terhadap proses produksi akan mendorong banjirnya produk pertanian organik di pasar. Jika produk sudah membanjir, maka akan ada kompetisi atas kualitas. Pada saat itu petani dan konsumen akan terdorong untuk merumuskan standard. Inilah yang seharusnya dijadikan standard pangan organik.

Program Go Organic sebaiknya tidak ditujukan untuk menjadikan Indonesia sebagai produser dan eksporter utama tanaman pangan organik. Target seharusnya adalah menjamin ketahanan pangan rakyat Indonesia secara berkelanjutan. Oleh sebab itu Go organik seharusnya lebih memfokuskan kepada upaya-upaya menyuburkan lahan pertanian Indonsesia sehingga produk pangan dan ketahanan pangan bisa berkelanjutan.

Rabu, 30 September 2009

Kemandirian Pupuk Organik & Desa Berdaulat Pangan

Keputusan penting diambil DPR RI periode 2004-2009 di akhir-akhir masa jabatannya. Subsidi pupuk yang sejak zaman orde baru diberikan kepada pabrik pupuk, disetujui sebesar 35,4% atau Rp 6.2 Triliun didistribusikan langsung kepada petani dalam bentuk program alat pengolahan pupuk organik, pengadaan ternak sapi, dan bantuan langsung. Subsidi langsung ini untuk tahun anggaran 2010 akan dialokasikan di 10.000 desa dari 70.000 desa yang terdapat di Indonesia.

Terlepas kemungkinan ada banyak alasan politik dan kepentingan di belakang keputusan tersebut namun keputusan ini sangatlah diapresiasi. Keputusan juga sekaligus menjadi gambaran bahwa kepercayaan para pengambil kebijakan terhadap kemampuan petani dan terhadap pertanian organik sebagai solusi terhadap persoalan-persoalan yang terjadi di sektor pertanian semakin tinggi.

Perubahan skema pupuk dari pabrik pupuk kepada petani untuk memproduksi pupuk organik secara langsung akan berdampak besar terhadap pembangunan pedesaan, baik dari aspek ekonomi maupun dari aspek perbaikan kesuburan tanah pertanian. Dan dalam jangka panjang akan menggeser arah pembangunan pertanian dari yang tergantung teknologi import dan berdampak buruk terhadap lingkungan menjadi pembangunan pertanian yang berbasis kekuatan lokal, bersahabat dengan alam dan berkelanjutan.

Dari desa mandiri pupuk organik menjadi desa mandiri pangan

Setiap pusat pengelolaan pupuk organik akan didukung oleh pemerintah dengan pemberian 35 ekor sapi. Dalam kondisi normal maka ke 35 sapi ini akan menghasilkan 1 sapi baru di tahun berikutnya. Dan itu berarti setiap tahunnya akan lahir satu tambahan pusat pengelolaan pupuk organik. Usaha peternakan itu sendiri akan menjadi energi penggerak ekonomi desa karena adanya produksi daging ataupun susu. Jika saja pemerintah dan DPR RI periode 2009-2014 secara konsisten mengalokasi subsidi yang sama maka dalam waktu 7 tahun ke depan seluruh 70.000 desa di Indonesia akan memiliki paling tidak 1 pusat pengelolaan pupuk organik yang setiap tahunnya berpotensi berkembang menurut deret ukur.

Dengan tumbuhnya pusat-pusat pengelolaan pupuk organik maka kita tidak akan lagi pernah mendengar berita kelangkaan pupuk. Secara mandiri masing-masing desa akan memenuhi kebutuhan pupuk bagi kegiatan pertanian di wilayahnya.

Penggunaan pupuk organik adalah sangat baik bagi tanah. Pupuk organik akan mempertahankan kesuburan tanah dan dapat mengembalikan kesuburan tanah khususnya tanah-tanah yang sudah rusak karena pengaruh bahan kimia sintetis. Tanah organik merupakan inti dari bertani secara organik. Tanah yang subur akan menghasilkan tanaman yang sehat dengan produktifitas yang baik dan berkelanjutan. Akibatnya penduduk desa akan terjamin pangannya secara berkelanjutan karena ada sumber pangan yang tersedia secara berkelanjutan.

Tabel 1. Skenario Pertumbuhan Jumlah Ternak, Pusat Pengelolaan Kompos, Jumlah Kotoran Ternak dan Potensi Lahan Berkecukupan Kompos.

Parameter

2010

2011

2012

2013

2014

2015

2016

Jumlah Sapi

350.000

1.050.000

2.450.000

5.250.000

10.850.000

22.050.000

44.450.000

Jumlah Desa

10.000

20.000

30.000

40.000

50.000

60.000

70.000

Julah Pusat Pengolahan Pupuk Organik

10.000

30.000

70.000

150.000

310.000

630.000

1.270.000

Jumlah Kotoran Sapi Diproduksi (ton)*

1.3 juta

3.8 juta

9 juta

19.2 juta

39.6 juta

80.5 juta

162.3 juta

Jumlah Kompos Diproduksi (ton)**

0.8 juta

2.3 juta

5.4 juta

11.5 juta

23.8 juta

48.3 juta

97.4 juta

Potensi Lahan Tercukupi Komposnya (Ha)***

127.750

383.250

894.250

1.916.250

3.960.250

8.048.250

16.224.250

*1 ekor sapi rata-rata menghasilkan kotoran 10 kg per hari

**1 kg kotoran sapi basah diperkirakan mengandung 60% kompos

*** Rata-rata kebutuhan kompos per hektar adalah 6 ton per hektar

Menjadi strategi penting untuk mengurangi kerentanan dan kemiskinan

Pengalihan subsidi pupuk organik ini seharusnya juga dijadikan sebagai strategi pengurangan kerentanan dan kemiskinan. Dalam konteks ini desa dan keluarga yang dikategorikan sebagai kelompok yang rentan terhadap kelaparan dan kekurangan gizi menjadi target utama pelaku usaha ternak dan pengelola pupuk kompos. Oleh sebab itu strategi yang paling tepat untuk mengelola pusat-pusat pengelolaan pupuk organik ini adalah menjalankannya dengan melibatkan desa dan kelompok masyarakat yang paling rentan dan miskin. Di desa-desa mereka termasuk ke dalam kategori petani gurem ataupun buruh tani dan tidak menjadi anggota kelompok tani yang selama ini menjadi prioritas penerima subsidi dari pemerintah.

Penutup

Sebenarnya masih banyak program pemerintah di luar pengalihan subsidi pupuk ini yang bisa dijadikan pendukung program pembangunan pusat-pusat pengelolaan pupuk organik tersebut seperti PNPM mandiri atau program-program departemen yang ditujukan untuk penguatan masyarakat desa. Koordinasi seluruh program-program ini akan mempercepat pencapaian desa mandiri pupuk organik yang kemudian tumbuh dan berkembang menjadi desa mandiri pangan.

Yogyakarta, 30 September 2009

Selasa, 15 September 2009

Revolusi Pertanian Organik: Revolusi Subsidi Pupuk

Beberapa minggu belakangan ini Kompas banyak mengangkat topik yang berhubungan dengan pangan dengan pesan utamanya adalah pentingnya membangun kedaulatan pangan. Diantara sekian banyak berita yang berhubungan dengan pangan tersebut ada tiga berita yang terkait dengan pertanian organik. Berita pertama tentang ekspor beras organik yang pertama sekali dilakukan oleh Indonesia, kedua tentang disetujuinya oleh Komisi IV DPR alokasi anggaran tahun 2010 sebesar Rp 6,2 triliun untuk pengembangan pupuk organik, dan ketiga tentang praktek perdagangan adil (fair trade) yang dilakukan sang pengeksport beras organik (Emily Sutanto, Kompas 4 September 2009) dalam berdagang dengan petani.

Revolusi pertanian organik:

Ketiga berita ini mengindikasikan sedang terjadi revolusi pertanian organik di sektor pembangunan pertanian.

Kepercayaan akan pembangunan pertanian yang berbasis teknologi import atau yang populer disebut “revolusi hijau” telah runtuh. Sebuah kepercayaan baru telah lahir. Kepercayaan tersebut adalah pertanian organik. Pertanian Organik dipercaya sebagai solusi dari masalah pembanguan yang dihadapi bangsa. Seperti sudah banyak dilaporkan, revolusi hijau tidak hanya gagal mempertahankan produksi pangan, tetapi lebih jauh mengancam keberlanjutan penghidupan. Banyak penelitian membuktikan bahwa revolusi hijau telah melahirkan persoalan dengan kelestarian alam, ketergantungan petani terhadap teknologi import, tidak berkembangnya indigenous knowledge, berkembangnya mata rantai perdagangan yang tidak adil, dan melahirkan banyak persoalan yang berhubungan kesehatan, pencemaran, dan sebagainya. Sebagai solusi, pertanian organik tidak hanya menyelesaikan persoalan yang diakibatkan revolusi hijau tetapi juga merehabilitasi kerusakan-kerusakan yang sudah terjadi sehingga lebih menjamin keberlanjutan ketersedian pangan dan kehidupan.

Langkah beralih ke pertanian organik secara nasional sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 2000 ketika Departemen Pertanian mengumandangkan slogan pembanguan pertanian yang disebut Go Organic 2010. Namun langkah-langkah revolusioner baru terberitakan sekarang.

Ekspor pertama beras organik merupakan sebuah aksi revolusioner, sebab untuk dapat mengekspor beras Memperindag sampai harus mengeluarkan Permendag No. 35/M-DAG/PER/8/2009. Namun langkah yang lebih revolusioner adalah dipraktekkannya sistem perdagangan yang adil (fair trade) dalam eksport beras organik tersebut. Model perdagangan fair trade merupakan model perdagangan yang dipopulerkan oleh para pengkritik perdagangan bebas (free trade) sebab perdagangan bebas telah mengakibatkan petani miskin dan negara miskin semakin tak berdaya di pasar, dipermainkan oleh pedagang besar dan negara maju.

Gerakan Fair Trade lahir tahun 40-an ketika sekelompok konsumen di negara bekas penjajah merasa prihatin atas kehidupan masyarakat desa di negara bekas jajahan mereka. Keprihatinan tersebut diwujutkan dengan membangun sebuah perdagangan dimana dalam perdagangan tersebut kesejahteraan produser juga menjadi perhatian. Gerakan ini semakin menguat seiring dengan semain dominannya kepercayaan negara-negara akan free trade atau perdagangan bebas. Gerakan fair trade diawali dengan perdagangan kerajinan dan kemudian komoditas pertanian. Fair trade adalah sistem perdagangan yang memperhatikan aspek keberlanjutan produser, kesejahteraan buruh, dan kelestarian alam. Dalam sisten perdagangan fair trade harga yang disepakati mencakup komponen penguatan petani, biaya produksi, dan kelestarian alam. Jika diperlukan, untuk biaya produksi juga akan dibayar di awal sebahagian oleh pembeli (dalam hal ini pedagang). Dalam perdagangan melalui pasar fair trade, hubungan antara produser dan pedagang diikat dengan kontrak perjanjian dengan harga minimum yang baik, dengan masa kontrak yang panjang (lebih dari 5 tahun) sehingga memungkinkan petani berpikir untuk membangun penghidupannya tanpa takut akan terjadi pemutusan pembelian ataupun penurunan harga sebab fluktuasi harga yang sangat ekstrim sangat sering terjadi pada komoditas eksport. Untuk masuk ke pasar fair trade maka produk harus terlebih dahulu disertifikasi oleh lembaga sertifikasi fair trade. Sekarang gerakan fair trade juga menjadi gerakan advokasi mereformasi WTO dan praktek-peraktek curang dan standard ganda (memaksa negara miskin meliberalisasi pasarnya sementara mereka sendiri semakin protektif) yang dilakukan oleh negara-negara industri seperti US, EU, dan Jepang. Inisiatif eksporter (pedagang) mempraktekan perdagangan yang adil ini jelas merupakan sebuah langkah revolusioner.

Langkah revoluioner yang lain adalah alokasi subsidi pupuk langsung kepada petani. Jika skema-skema subsidi pupuk sebelumnya diberikan kepada produser pupuk, maka skema subsidi yang sekarang digunakan adalah pemberian subsidi langsung kepada petani dalam bentuk alat pengolahan pupuk organik, pengadaan ternak sapi dan bantuan langsung. Skema ini tidak hanya secara langsung mendorong berkembangnya praktek pertanian organik tetapi juga mendorong pembangunan pedesaan lebih luas. Seperti yang disampaikan oleh Menteri Pertanian melalui media masa, subsidi tersebut akan digunakan untuk membangun 10.000 unit usaha pupuk organik, dan mengadakan 350.000 ekor sapi. Jika tahun pertama saja ada 350.000 ekor sapi maka pada tahun kedua sapi tersebut akan bertambah menjadi 700.000 ekor dan seterusnya. Dan jika tahun depan subsidi sebesar yang sama diberikan maka dalam waktu 7 tahun 70.000 desa yang terdapat di Indonesia sudah bisa memiliki sentra pengolahan pupuk, dan paling tidak ada lebih dari 50.000 desa pada tahun kelima sudah memiliki lebih dari satu unit sentra pengolahan pupuk. Ini jelas bisa lebih pendek lagi jika tidak hanya subsidi pupuk yang dialihkan untuk mendukung pembangunan desa-desa organik tersebut tetapi dukungan-dukungan PNPM mandiri yang besarnya 16 triliun pada tahun 2010 bisa dikoordinasikan. Tentu saja pilihan jenis ternak bisa dikombinasi dengan hewan besar lainnya. Pupuk organik yang ada akan mendukung proses produksi tanaman pangan sementara sapi sendiri telah menjadi tabungan bagi petani yang jumlahnya akan bertambah dari tahun ke tahun. Sapi juga dapat memproduksi susu, dan jika dijalankan dengan konsisten maka secara revolusiober kedaulatan pangan yang berkelanjutan akan bisa dicapai tahun 2015. Pada tahun tersebut setiap desa di Indonesia sudah memiliki pusat pembuatan pupuk organiknya sendiri untuk produksi pangannya, dan juga memiliki tabungan dalam bentuk sapi yang bisa memproduksi susu, daging, alat bantu produksi dan juga bisa menghasilkan anak sapi.

Langkah-langkah revolusioner ini harus diteruskan walaupun masa kerja kabinet Indonesia Bersatu berakhir. Siapapun yang menjadi menteri pertanian di masa mendatang, revolusi pertanian organik ini harus dilanjutkan.

Rabu, 21 November 2007

Rabu, 14 November 2007

Pertanian Organik: Jalan Pembebasan

Pertanian Organik:
Jalan Pembebasan Menuju Penghidupan Yang Berkelanjutan.

Pengenalan teknologi baru (revolusi hijau) ke dalam sistem sosial yang tidak adil tidak akan bisa mengakhiri kelaparan. Dan justru menjadi lebih parah lagi ketika akibatnya terhadap komponen dasar dari produksi dipertanyakan, misalnya dengan menurunkan kualitas tanah, meningkatkan hama dan penyakit. Ini kemudian akan mengakibatkan ketidak berlanjutan dari segi ekologi dan ekonomi.
Peter Rosset, Joseph Collins and Frances Moore Lapp
[1]

Dampak revolusi hijau terhadap keberlanjutan penghidupan memang sangat mengkhawatirkan. Revolusi hijau tidak hanya mengancam karena kerusakan lingkungan yang diakibatkannya, tetapi juga karena kerusakan dari aspek sosial dan ekonomi. Karenanya Revolusi Hijau harus diberhentikan. Ekosistem tidak bisa dirubah secara revolusioner. Manusia harus mendamaikan keinginannya dengan keinginan dan aspirasi unsur unsur lain di alam. Kehidupan harus dibangun secara harmonis bukan secara egois. Semangat untuk meng-exploitasi unsur unsur lain untuk kepentingan yang egois harus diganti dengan semangat keselarasan.

Pertanian organik memenuhi syarat tersebut. Pertanian organik mengedepankan hubungan yang harmonis antar unsus unsur yang ada di alam. Pertanian organik tidak hanya menjadi solusi karena mampu secara langsung menggantikan revoluasi hijau untuk menyediakan pangan dan penghidupan secara berkelanjutan, tetapi juga mampu memperbaiki kerusakan yang sudah terjadi akibat revolusi hijau.


Jalan Pembebasan I: Membebaskan Petani dari Ketergantungan Teknologi
Revolusi hijau secara sistematis membunuh kreatifitas petani untuk menghasilkan pangan dengan menggunakan sumber daya lokalnya. Revolusi hijau menggantikan teknologi berbasis sumber daya lokal dengan teknologi import, yaitu teknologi yang harus dibeli oleh petani. Peristiwa ketergantungan petani terhadap teknologi pabrikan ini memang berlangsung secara sistematis. Tahap awal teknologi ditawarkan dengan gratis. Setelah petani terperangkap maka segala yang gratis harus dibayar. Tidak ada lagi bibit gratis, pestisida gratis maupun pupuk gratis. Repotnya lagi ketika petani mau beralih ke sumber daya lokal, sumber daya lokal tersebut sudah tidak lagi tersedia. Bibit lokal sudah semakin sulit didapatkan.Teknologi kompos sudah lama dilupakan. Disamping itu jika petani mau menjiplak teknologi yang diciptakan pabrik, maka petani akan berhadapan dengan seperangkat hukum paten. Hukum paten adalah hak eksklusif yang dimiliki oleh individu atau perusahaan untuk mem-perdagangkan benih tertentu yang dihasilkannya dalam kurun wkatu tertentu. Di Kanada seorang petani kanola dituntut oleh Monsanto karena dianggap menggunakan benih yang dikembangkan Monsanto tanpa seizin Monsanto. Padahal petani tersebut sama sekali tidak menggunakan benih yang dihasilkan Monsanto, tetapi menggunakan benih dari tanaman kanola yang sudah dikelolanya dari tahun tahun sebelumnya. Demikian juga di Kediri, Mojokerto, dan banyak lagi daerah di Jawa Timur petani terpaksa berurusan dengan hukum karena dianggap oleh PT Bisi memperbanyak dan memperdagangkan benih mereka tanpa seizin PT Bisi.

Hukum paten telah mengabaikan proses evolusi yang dilakukan oleh petani untuk menghasilkan benih maupun menghasilkan teknologi yang selaras dengan alam dan budaya mereka.


Percy Schmeiser vs Monsanto

Percy Schmeiser adalah seorang petani kanola (bahan baku minyak goreng) di Kanada yang diajukan ke pengadilan oleh Monsanto dengan tuduhan menggunakan bibit paten hasil laboratorium tanpa seizin Monsanto.

Perjuangan Percy mendapat perhatian dan dukungan internasional karena dianggap menjadi simbol perlawanan petani melawan perusahaan yang memiliki paten atas benih.

Monsanto (perusahaan benih dan pestisida) menuduh Percy telah menanam tanpa izin benih canola yang tahan round-up yang dikembangkan oleh Monsanto. Padahal Percy tidak pernah menanam benih produk Monsanto tersebut di lahannya seluas 320 hektar. Percy hanya menanam benih tradisional yang sudah dikembangkannya secara turun temurun. Kemungkinan besar telah terjadi kontaminasi lewat angin oleh benih benih produk Monsanto yang di tanam petani lain di skitar kebun milik Percy atau oleh beberapa butir benih yang jatuh ketika truk Monsanto lewat. Mosanto menuntut Percy untuk membayar kepada Monasato sebesar $ 15/acre untuk biaya teknologi. Dalam putusan persidangannya Supreme Court (MA) menyatakan bahwa paten Monsanto adalah syah namun membebaskan Percy dari tuntutan untuk membayar tuntatan Monsanto. Perjuangan Percy mendapat dukungan internasional karena dianggap menjadi kasus penting melawan rezim paten dan benih transgenik. Karena perjuangannya Percy mendapat beberapa penghargaan seperi Mahatma Gandhi Award, Right Livelihood Award, dsbnya.
[2]


Tukirin vs PT Bisi
Dalam konteks yang lain Tukiran dan kawan kawannya sesama petani jagung di Nganjuk diajukan ke pengadilan oleh PT Bisi dengan tuduhan mencuri benih induk yang dimiliki PT Bisi, dan menjual benih hibrida yang dipatenkan tersebut tanpa seizin PT Bisi. Padahal yang dilakukan oleh Tukirin dan kawan kawan adalah melakukan penyerbukan silang antar tanaman jagung sehingga menghasilkan benih jagung yang anaknya bisa berproduksi sama baiknya dengan induknya. Hal ini tidak bisa dilakukan oleh benih hibrida, dimana benih hasil panen petani tidak dapat digunakan lagi sebagai benih pada musim selanjutnya. Akibatnya setiap musim tanam petani harus membeli benih baru. Benih baru dan teknologi baru yang diperkenalkan Tukirin membuat perusahaan benih menjadi gerah dan melaporkan Tukirin kepada polisi dengan tuduhan mencuri induk dan menjual benih secara tidak syah.
[3]


Bertani organik berarti memutus mata rantai ketergantungan terhadap teknologi import. Bahan bahan atau sarana produksi yang digunakan oleh pertanian organik bersumber dari sumber daya lokal. Secara alamiah di alam sudah berkembang bibit bibit alami yang berkembang dari generasi ke generasi melalui proses seleksi alam. Bibit tersebut tidak membutuhkan kondisi external yang sangat terkontrol, sebab proses seleksinya sendiri sudah dikontrol oleh alam. Bibit bibit tersebut secara gratis bisa diperbanyak tidak harus terperangkap akan hak paten perusahaan. Petani juga bisa mengembangan humus dan kompos dari bahan bahan yang terdapat dari sekitarnya. Semuanya akan mendorong petani menjadi lebih kreatif menciptakan teknik teknik atau cara cara yang disatu sisi mempermudah hidupnya, tetapi tidak mempersulit mahluk hidup lainnya untuk melanjutkan kehidupannya. Tentu saja tantangan besarnya adalah mengumpulkan kembali benih benih lokal yang sudah sangat langka. Revolusi hijau menyingkirkan benih benih lokal dari lahan petani ke gudang gudang lembaga penelitian dan perusahaan yang menjadi sumber benih benih “ajaib” yang diciptakan perusahaan.

Keterbebasan dari sarana produksi import akan membuat nilai tukar produk dengan sarana produksi relatif lebih stabil dibandingkan dengan apa yang terjadi pada revolusi hijau.

Jalan Pembebasan II: Mendorong Solidaritas Petani
Revolusi hijau melahirkan sebuah gerakan sosial yang rapuh. Monokulturisasi melahirkan kompetisi antar petani terhadap air, dan sarana produksi lainnya. Monokulturisasi juga menyebabkan petani bersaing untuk menjual produk pertaniannya karena terjadinya panen bersamaan untuk komoditas yang seragam. Sebaliknya pertanian organik sangat mengandalkan keaneka ragaman tanaman dan rotasi tanaman. Dengan sistem yang demikian maka kompetisi antar tanaman dapat dihindarkan. Demikian juga kepadatan hama dan penyakit tanaman bisa dikelola. Perbedaan musim panen tanaman mengakibatkan harga pasar komoditas bisa menguntungkan petani. Apalagi ketika komunikasi dengan konsumen sudah terbangun. Karenanya pertanian organik sangat mengandalkan kerjasama antar petani dalam sebuah ekosistem pertanian yang luas. Rasanya hampir tidak mungkin bagi petani yang mengelola lahan sempit untuk secara sendirian ber-organik. Kalaupun ada petani berlahan sempit secara sendirian memulai bertani organik maka biasanya yang terjadi adalah lahannya menjadi tempat tinggal bagi seluruh mahluk hidup yang kehidupannya terancam di lahan lahan non organik. Akibatnya terjadi kompetisi antara petani dan mahluk hidup tersebut. Resikonya adalah petani tidak mendapat bahagian panen sebesar yang diharapkannya dari usaha tani yang dilakukannya.

Untuk itu, ketika petani akan bertani organik maka para petani harus berkomunikasi dengan komunitasnya. Dengan perkataan lain, pertanian organik mendorong petani untuk berkomunikasi dengan komunitasnya sehingga keharmonisasn ekosistem bisa terjaga. Prinsip prinsip multicroppring, rotasi tanaman, pembuatan kompos, akan berjalan efisien dan efektif jika ada pembicaraan dan kesepakatan dalam komunitas. Dalam konteks ini, petani tidak saling bersaing tetapi saling melengkapi. Ada saling ketergantungan antar sesama petani. Ketergantungan untuk saling melengkapi ini mendorong terbangunnya solidaritas petani. Solidaritas petani ini lebih jauh akan bergerak menjadi kekuatan sosial dan politik bagi petani untuk memperjuangkan aspirasinya.

Jalan Pembebasan III. Membebaskan Keterasingan Konsumen dari Proses Produksi
Selama hampir seabad, secara sistematis revolusi hijau tidak memberikan pendidikan yang berarti bagi konsumen. Konsumen tidak merasa penting untuk mengetahui bagaimana proses produksi berlangsung. Konsumen juga tidak merasa tidak bermoral untuk mengkonsumsi produk yang diproduksi dengan darah dan air mata. Konsumen tidak tahu kalau harga jual produk pertanian petani seringkali jatuh ke tingkat yang sangat merugikan petani ketika musim panen raya tiba. Hal ini bisa terjadi karena harga yang dibayar konsumen relatif tidak pernah turun. Konsumen juga tidak tahu kalau proses produksi yang terjadi sudah mengancam keberlanjutan kehidupan.

Kesadaran konsumen pada awalnya bangkit ketika para penggerak pertanian organik mempublikasi laporan tentang bahaya mengkonsumsi produk pangan hasil revolusi hijau bagi kesehatan manusia. Seruan para pelopor gerakan pertanian organik ini berhasil menyadarkan konsumen sehingga membebaskannya dari keterasingan terhadap proses produksi. Kesadaran akan bahaya produk revolusi hijau terhadap kesehatan mendorong keinginan konsumen untuk membangun hubungan dengan petani. Hubungan ini kemudian melahirkan mekanisme pasar yang lebih adil. Petani tidak lagi dianggap hanya sebagai alat produksi namun sebagai mitra yang menyediakan pangan bagi manusia lain untuk menjamin keberlanjutan kehidupan di muka bumi. Oleh karena itu konsumen tidak lagi ragu ragu mendukung petani untuk mensejahterakan kehidupan keluarganya. Petani tidak lagi dianggap sebagai kelas sosial yang tidak layak menikmati kesejahteraan yang sama baiknya dengan konsumen. Dibanyak negara hubungan petani dan konsumen ini di-institusionalisasi dengan baik seperti Tekei di Jepang. Prinsip utama dari kerjasama itu adalah komunikasi yang intensif antara petani dan konsumen dalam kerangka pemahaman membangun peghidupan yang berkelanjutan. Di Indonesia bentuk bentuk kemitraan antara petani dan konsumen organik bisa ditemui di Yogyakarta[4], di Bogor[5], Malang[6], Surabaya[7], Boyolali dan Solo[8], dsbnya.

Hubungan yang terbangun antara konsumen dan petani seperti ini mengakibatkan harga kesepakatan menjadi lebih stabil sehingga memudahkan petani dan konsumen mengelola pendapatannya.

Jalan Pembebasan IV: Membebaskan Dunia dari Pengrusakan Lingkungan
Seperti sudah di diskusikan di Bab sebelumnya, pertanian dengan sarana produksi bahan kimia sintetis berdampak buruk terhadap lingkungan. Pertanian organik mengkonservasi kerusakan yang sudah terjadi dan mencegah kerusakan lebih lanjut dari kelestarian alam. Kerusakan tanah karena penggunaan pupuk secara perlahan lahan diperbaiki oleh penggunaan pupuk kompos, rotasi tanaman, dan sistem multicropping. Dengan multicorpping dan rotasi tanaman maka ledakan hama dan penyakit bisa dikelola. Multicropping dan rotasi tanaman memungkinkan musuh alami dari mahluk hidup yang menjadi komptetitor manusia untuk mendapatkan hasil bisa hidup dan berkembang. Semakin lama sebuah lahan dikelola secara organik maka semakin stabil ekosistem di lahan tersebut sehingga kecil kemungkinan terjadi ledakan hama. Apalagi dengan adanya kompos maka segala unsur yang dibutuhkan tanaman menjadi tercukupi. Sangat berbeda dengan pupuk sintetis yang tidak bisa menyediakan seluruh unsur yang dibutuhkan tanaman. Pupuk sintetis biasanya hanya mampu memenuhi kebutuhan unsur N, P, dan K. Tentu saja dengan dampak negatif dalam jangka panjang seperti rusaknya struktur tanah, dan membuat tanah semakin tidak menyenangkan bagi tanaman.

Disamping itu distribusi dan proses produksi sarana produksi sintetis ini membutuhkan sumber daya alam yang sulit terperbaiki.


Jalan menuju penghidupan yang berkelanjutan.
Chamber R dan G. Conway[9] menyebutkan bahwa penghidupan (livelihood) akan berkelanjutan (sustainable) jika penghidupan yang ada memampukan orang/masyarakat untuk menghadapi dan pulih dari tekanan dan guncangan, memampukan orang/masyarakat untuk mengelola dan menguatkan kemampuan (capabilities) dan kepemilikan sumber daya (assets) untuk kesejahteraannya/masyarakat saat ini (sekarang) maupun masyarakat/kehidupan dimasa mendatang, serta tidak menurunkan kualitas sumber daya alam yang ada.
Konsep keberlanjutan penghidupan memang memiliki banyak dimensi. DFID (1999)[10] misalnya menyebutkan bahwa penghidupan akan berkelanjutan jika:
  1. elastis dalam menghadapi kejadian-kejadian yang mengejutkan dan tekanan-tekanan dari luar;
  2. tidak tergantung pada bantuan dan dukungan luar (atau jika tergantung, dukungan itu sendiri secara ekonomis dan kelembagaan harus sustainable);
  3. mempertahankan produktivitas jangka panjang dari sumberdaya alam;
  4. dan tidak merugikan penghidupan (livelihoods) dari, atau mengorbankan pilihan-pilihan penghidupan (livelihoods) orang lain.

    Secara sistematis DFID merumuskan konsep penghidupan berkelanjutan ini dengan sebuah pendekatan yang disebut Pendekatan Sustainable Livelihood (Pendekatan Penghidupan Berkelanjutan). Pendekatan Penghidupan Berkelanjutan adalah cara berpikir dan bekerja untuk pembangunan yang berkembang secara evolusi dan dalam tujuan untuk mengefektifkan segala usaha-usaha mengakhiri kemiskinan dan ketidak adilan. Sebagai sebuah pendekatan Pendekatan Penghidupan Berkelanjutan didukung oleh seperangkat prinsip-prinsip dan alat-alat yang menggambarkan cara mengorganiser, memahami, dan bekerja menangani issue-issue kemiskinan dan ketidak adilan yang kompleks dan beragam, dimodifikasi dan diadaptasi menyesuaikan diri terhadap prioritas dan situasi lokal.

    Jika kita lihat dari definisi apa yang dimaksud dengan Pendekatan Penghidupan Berkelanjutan maka elemen kunci dari pendekatan ini secara garis besar dapat di bagi tiga yaitu:
    Elemen internal yang terdapat pada manusia yaitu kapasitas, sumber daya, dan kegiatan. Kapasitas adalah kemampuan untuk menggunakan sumber daya untuk kegiatan kegiatan penghidupan sehingga mampu mencapai tujuan penghidupan yang diinginkan.
    Elemen external yang berada di luar kontrol manusia tetapi mempengaruhi penghidupan manusia. Elemen external tersebut antara lain perubahan yang terjadi secara mendadak, perlahan, maupun musiman yang relatif tidak bisa dikontrol, dan kebijakan.
    Adalah capaian atau tujuan yang diinginkan dari pengembangan penghidupan yang dilakukan.

    Secara diagramatic pendekatan ini dapat digambarkan sebagai berikut[11]:


    Dalam perspektif kerangka kerja ini maka pembebasan yang dilakukan oleh Pertanian Organik akan membawa gerakan pertanian organik kepada penghidupan yang berkelanjutan.

    Pertanian organik mendorong perbaikan sumber daya yang dimiliki manusia. Perbaikan sumber daya ini khususnya sumber daya sosial (kekuatan solidaritas antar petani dan antara petani dan manusia) dan sumber daya manusia (ketrampilan, kesehatan, kreatifitas) berkontribusi terhadap proses pembuatan kebijakan sehingga semakin berpihak kepada proses pembangunan yang menuju penghidupan berkelanjutan. Proses perbaikan kebijakan ini juga berpengaruh terhadap pengurangan resiko perubahan perubahan yang mengancam penghidupan seperti kerusakan alam. Disamping itu pertanian organik mendidik manusia supaya tidak egois tetapi menyadari adanya saling ketergantungan seluruh mahluk dalam ekosistem.

    [1]Lessons from the Green Revolution. Do we need new technology to end hunger? http://www.twnside.org.sg/title/twr118c.htm
    [2] http://www.percyschmeiser.com/conflict.htm dan http://en.wikipedia.org/wiki/Percy_Schmeiser
    [3] Lihat Lembar Info WALHI: Kamis, 22 September 2005 http://www.walhi.or.id/kampanye/psda/050922_ptnbenih_cu/
    http://hukumonline.com/detail.asp?id=13688&cl=Berita

    [4] Seperti yang dikelola oleh SAHANI, SPTN-HPS, dsbnya.
    [5] Seperti yang dikelola oleh ELSPPAT, BIna Sarana Bhakti, dsbnya.
    [6] Seperti yang dikelola oleh Mitra Bumi Indonesia, Yayasan Pembangunan Pedesaan, dsbnya.
    [7] Seperti yang dikelola oleh PPLH-Seloliman, dsbnya.
    [8] Seperti yang dikelola oleh LESMAN, LPTP, maupun Gita Pertiwi.
    [9] Chambers, R. dan G. Conway, 1992. Dalam artikelnya yang berjudul Sustainable Rural Livelihoods: Pratical Concepts for the 21st. Century. IDS Discussion Paper 296. Brighton:IDS. Banyak organisasi di Indonesia menterjemakannya livelihood menjadi “penghidupan”.
    [10] DFID (Department for International Development). 1999. Sustainable Livelihoods Guidance Sheets.
    [11] Kerangka kerja seperti yang diperkenalkan oleh DFID.